Hitu, InfoAktual.com – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengapresiasi pelaksanaan Festival Hadroh di Negeri Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu (6/9/2026).
Lewerissa menilai Festival Hadroh tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni keagamaan, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat keimanan, persaudaraan, pelestarian tradisi, serta kerukunan masyarakat Maluku.
Hal tersebut disampaikan Lewerissa saat memberikan sambutan pada Festival Hadroh di Negeri Hitu. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Negeri Hitu, panitia penyelenggara, peserta, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurut Lewerissa, Jazirah Leihitu memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Maluku. Wilayah tersebut sejak dahulu dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam sekaligus tempat tumbuh dan berkembangnya tradisi serta seni Islam di Maluku.
“Negeri Jazirah Leihitu adalah negeri yang sejak dahulu kala menjadi pusat penyebaran Islam di Maluku. Di sinilah denyut awal budaya dan seni Islam berakar kuat,” ujar Lewerissa.
Karena itu, ia menilai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dapat diisi dengan ceramah dan doa, tetapi juga melalui kegiatan seni yang mampu menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada masyarakat.
Lewerissa menjelaskan, seni hadroh memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan. Lantunan syair dan shalawat yang diiringi pukulan rebana dapat menjadi media dakwah untuk memperkuat keimanan, membentuk akhlak, sekaligus membangun kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, toleransi, dan persaudaraan.
“Agama mengajarkan kedamaian, seni menghadirkan keindahan, dan persaudaraan menghadirkan kekuatan,” tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya menjadikan Festival Hadroh sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan masyarakat Maluku. Menurutnya, nilai-nilai Pela Gandong, gotong royong, dan kehidupan bersama dalam keberagaman merupakan kekuatan sosial yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lewerissa menyebut sedikitnya ada tiga makna strategis dari pelaksanaan Festival Hadroh.
Pertama, festival menjadi sarana membangkitkan semangat generasi muda. Keterlibatan anak-anak muda dalam seni hadroh dinilai menunjukkan bahwa tradisi Islam Nusantara masih hidup dan terus diwariskan.
Kedua, Festival Hadroh menjadi bagian dari upaya memelihara tradisi dan identitas masyarakat Maluku. Hadroh, kata dia, bukan sekadar seni, tetapi juga media dakwah, silaturahmi, sekaligus bagian dari identitas masyarakat yang religius.
Ketiga, kegiatan tersebut dinilai berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata religi di Maluku.
Lewerissa meyakini kegiatan keagamaan dan kebudayaan seperti Festival Hadroh dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar Maluku untuk datang dan merasakan langsung suasana spiritual serta kekayaan tradisi di Negeri Hitu.
Pengembangan wisata religi, lanjutnya, juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pergerakan UMKM, kuliner, kerajinan lokal, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
“Insya Allah, Negeri Hitu akan menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan di Maluku,” harapnya.
Kepada seluruh peserta Festival Hadroh, Lewerissa berpesan agar menampilkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas dan membangun persahabatan antarpeserta.
Ia menekankan, kemenangan bukan satu-satunya tujuan dalam sebuah festival. Lebih penting dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi momentum memperluas silaturahmi dan memperkuat persaudaraan.
Lewerissa berharap Festival Hadroh dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya bersama membangun Maluku yang religius, damai, rukun, maju, dan sejahtera.
“Mari kita jadikan Festival Hadroh ini sebagai momentum untuk memperkuat semangat Maluku yang religius, damai, rukun, maju, dan sejahtera,” pungkasnya.














Komentar