oleh

RSUD Tiakur Catat 16 Pasien Baru HIV/AIDS di MBD Sepanjang 2025

banner 468x60

Tiakur, Info-Aktual.com, – Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih memerlukan perhatian serius seiring ditemukannya pasien baru sepanjang 2025, berdasarkan hasil pendampingan dan pemeriksaan yang dilakukan Klinik PDP HIV Melati RSUD Tiakur.

Ketua Tim sekaligus Penanggung Jawab Penanganan HIV/AIDS RSUD Tiakur, dr. Valda A. Laipeny, mengatakan sebanyak 1.185 orang menjalani skrining HIV di seluruh wilayah MBD selama 2025, baik di puskesmas maupun rumah sakit.

banner 336x280

“Dari hasil skrining tersebut, 10 orang dinyatakan reaktif HIV. Selain itu, terdapat enam warga MBD yang terdeteksi positif HIV di luar daerah dan dirujuk kembali untuk menjalani pengobatan di RSUD Tiakur,” kata Valda saat ditemui di Tiakur, Selasa (27/1/2026).

Dengan demikian, jumlah pasien baru HIV/AIDS selama 2025 mencapai 16 orang. Jika diakumulasikan dengan pasien tahun-tahun sebelumnya, total kasus HIV/AIDS di Kabupaten MBD hingga 31 Desember 2025 tercatat 36 orang.

Selama 2025, lanjut Valda, tercatat delapan pasien meninggal dunia, terdiri atas lima pasien yang baru terdeteksi pada 2025 dan tiga pasien yang terdeteksi sebelum 2025.

“Kematian umumnya disebabkan keterlambatan deteksi, kondisi pasien sudah berada pada stadium lanjut, atau ketidakpatuhan dalam menjalani terapi antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi seumur hidup,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan target eliminasi HIV tahun 2030 sebagaimana diatur dalam Permenkes Nomor 23 Tahun 2022, yakni kurang dari 7 kasus per 100.000 penduduk, kondisi MBD masih berada di atas target.

Dengan estimasi jumlah penduduk sekitar 80.000 jiwa, angka kasus HIV di daerah tersebut berada pada kisaran 12 hingga 20 per 100.000 penduduk.

Menurut Valda, faktor risiko utama penularan HIV di MBD masih didominasi oleh perilaku seksual berisiko, termasuk berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat berhubungan seksual.

“Selain itu, terdapat pula faktor penularan lain seperti penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah, serta penularan dari ibu ke anak. Namun, perilaku seksual berisiko masih menjadi faktor yang paling dominan,” katanya.

Valda menjelaskan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala. Seseorang yang terinfeksi HIV tanpa gejala disebut ODHIV.

Jika infeksi berkembang hingga menimbulkan gejala berat dan infeksi oportunistik, kondisi tersebut disebut AIDS. “Jika terdeteksi dini dan pasien patuh menjalani pengobatan, kualitas hidup ODHIV dapat tetap baik dan produktif,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat, serta menghindari stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV. Menurutnya, HIV tidak menular melalui interaksi sosial seperti makan, duduk, atau berbincang bersama.

Untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS, Valda mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus mengampanyekan perilaku hidup sehat, setia pada satu pasangan, penggunaan kondom secara benar, serta memastikan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV mudah diakses, terutama di wilayah kepulauan. (IA-02)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *