oleh

Dari Rumah Bocor ke Hunian Layak, TMMD Ubah Hidup Lansia di Pulau Moa

banner 468x60

Tiakur, Info-Aktual.com, – Hujan tak lagi sekadar bunyi di atap bagi Ribka Aitiawisima. Bertahun-tahun, setiap tetes air yang jatuh dari langit berarti kecemasan—air yang merembes ke dalam rumah, dingin yang menusuk tulang, dan ketakutan akan dinding yang sewaktu-waktu roboh. Di usia 71 tahun, ia menjalani hari-hari dalam rumah yang nyaris kehilangan fungsi paling dasarnya: melindungi.

Pagi itu, langit Desa Moain terlihat cerah. Namun bagi Ribka Aitiawisima, cuaca bukan lagi sekadar soal terang atau hujan. Ia telah terlalu lama hidup dalam kewaspadaan.

banner 336x280

Rumahnya—jika masih bisa disebut demikian—berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Atapnya berlubang di banyak sisi, membiarkan hujan masuk tanpa permisi. Dinding tembok yang lapuk tanpa plesteran tak lagi kokoh menopang usia. Lantainya dingin, lembap, dan sunyi.

Di situlah ia tinggal seorang diri.

Setiap musim hujan datang, kecemasan menjadi teman yang tak pernah absen. Ia harus memindahkan barang-barangnya ke sudut yang lebih kering, menahan dingin, dan berharap malam segera berlalu tanpa kejadian buruk. Tak ada pilihan lain.

Hingga suatu hari, sekelompok prajurit datang ke desa itu.

Mereka adalah bagian dari Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128. Awalnya, kehadiran mereka seperti kegiatan biasa—pembangunan desa yang kerap terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari warga kecil.

Namun bagi Ribka, kehadiran itu perlahan mengubah segalanya. Para prajurit itu tidak hanya melihat, mereka berhenti di depan rumahnya. Mereka memperhatikan, mengukur, lalu berbicara.

Tak lama kemudian, pekerjaan dimulai. Kayu-kayu lapuk dibongkar. Atap yang bocor dilepas. Suara palu dan gergaji mulai terdengar sejak pagi hingga sore. Debu beterbangan, namun kali ini bukan pertanda kerusakan—melainkan perubahan.

Yang mengharukan, Ribka tidak sendirian menyaksikan itu.

Warga desa ikut datang. Mereka membantu mengangkat bahan, mencampur adukan, dan bekerja bersama para prajurit. Tak ada sekat antara seragam dan masyarakat. Semua larut dalam satu tujuan yang sama: memperbaiki satu rumah, memperbaiki satu kehidupan.

Hari demi hari, perubahan itu menjadi nyata.

Rangka atap berdiri lebih kuat. Penutup atap yang baru terpasang rapi. Dinding diperkuat dan dipelster, menutup celah yang selama ini membiarkan angin dan hujan masuk tanpa halangan.

Jendela dan pintu-pintu rumah yang rusak dan lapuk diperbaiki dan diganti yang baru dan lebih kokoh.

Rumah itu mulai berubah bentuk—dari tempat yang penuh kekhawatiran menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan.

Di tengah proses itu, Ribka lebih banyak diam. Ia memperhatikan dari dekat, sesekali duduk di sudut, menyaksikan rumahnya yang lama perlahan “dihidupkan kembali”.

Perasaan yang muncul bukan sekadar senang. Lebih dari itu, ada kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Selama ini, ia hidup dalam keterbatasan tanpa banyak harapan. Kini, tanpa ia minta, bantuan itu datang.

TMMD
Lansia di Desa Moain, Ribka Aitiawisima (71) berpose di rumahnya yang direhabilitasioleh Satgas TMMD ke-128.

Program TMMD ke-128 memang dirancang untuk mempercepat pembangunan di wilayah pedesaan, khususnya di daerah terpencil dan kepulauan seperti Pulau Moa. Sasaran utamanya beragam—dari infrastruktur jalan hingga fasilitas umum.

Namun di balik angka-angka pembangunan itu, ada cerita-cerita kecil yang sering luput dari perhatian. Cerita tentang rumah yang diperbaiki, tentang hidup yang perlahan dipulihkan.

Rumah Ribka adalah salah satunya.

Ketika pekerjaan hampir selesai, suasana di rumah itu terasa berbeda. Tidak lagi gelap dan lembap. Tidak lagi sunyi dan rapuh. Sebuah tempat tinggal yang dulu nyaris runtuh kini berdiri lebih kokoh, tidak lagi kusam tetapi dicat bersih dengan warna lebih terang.

Dan yang berubah bukan hanya bangunannya. Ribka kini tidak lagi memandang langit dengan rasa cemas. Hujan yang dulu menakutkan, kini kembali menjadi hal biasa.

“Sekarang beta seng takut lagi kalau hujan,” ucapnya lirih, dengan mata berkaca-kaca yang tak mampu menyembunyikan rasa haru.

Di usia senjanya, ia akhirnya mendapatkan sesuatu yang sederhana—namun selama ini terasa begitu jauh: rasa aman.

Di Desa Moain, perubahan itu mungkin hanya terlihat sebagai satu rumah yang diperbaiki. Tetapi bagi seorang perempuan tua yang telah lama hidup dalam keterbatasan, itu adalah awal dari kehidupan yang berbeda.

Sebuah rumah yang layak, bagi Ribka, bukan sekadar tempat berteduh. Itu adalah harapan yang akhirnya datang—meski terlambat, tapi tidak pernah sia-sia. (IA-01)

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *