Tiakur, Info-Aktual.com, – Di halaman tanahnya yang sederhana di Desa Moain, Pulau Moa, Marthen Kaidalu berdiri menyaksikan garis-garis fondasi rumahnya mulai dibentuk. Setelah bertahun-tahun hidup di rumah tua yang rapuh, harapan itu akhirnya menemukan bentuknya pada program TMMD ke-128 yang mulai membangun ulang tempat tinggalnya, Ahad (26/4/2026).
Pagi itu, saat matahari mulai muncul di ufuk timur, suara cangkul dan adukan semen memecah sunyi di sudut Desa Moain, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Sejumlah personel TNI tampak sibuk mengukur, menggali, dan menyusun fondasi—tahap paling awal dari pembangunan rumah Marthen Kaidalu.
Bagi Marthen, pekerjaan itu bukan sekadar proyek pembangunan. Tapi menjadi penanda bahwa penantian panjangnya untuk memiliki rumah yang layak akhirnya dimulai.
Selama ini, Marthen tinggal di rumah yang dibangun orang tuanya puluhan tahun lalu. Waktu dan cuaca perlahan menggerogoti bangunan itu—dinding melemah, struktur menua, dan perlindungan yang seharusnya diberikan rumah tak lagi utuh.
Namun dengan penghasilan sebagai petani dan nelayan, memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.
Harga bahan bangunan yang tinggi di Tiakur, ibu kota kabupaten, membuat rencana renovasi kerap tertunda. Kebutuhan sehari-hari keluarga menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 kemudian datang membawa perubahan. Rumah Marthen masuk dalam daftar sasaran rehabilitasi rumah tidak layak huni. Alih-alih sekadar diperbaiki, rumah tersebut direncanakan dibangun ulang dengan struktur yang lebih kuat dan aman.
Pekerjaan dimulai dari tahap dasar: pemasangan boplang dan pembuatan fondasi. Para prajurit bekerja dengan perhitungan yang cermat, memastikan setiap titik memiliki kekuatan yang cukup untuk menopang bangunan di atasnya.
“Fondasi ini yang paling penting. Dari sini semua dimulai,” ujar salah satu personel di lokasi, sambil merapikan adukan semen.
Di sela aktivitas, Marthen tak banyak bicara. Ia lebih sering memperhatikan proses itu dengan tatapan yang sulit disembunyikan—antara lega dan harap. Rumah yang selama ini hanya ia bayangkan kini mulai berdiri, dimulai dari tanah yang ia pijak setiap hari.
Marthen dikenal sebagai warga yang memiliki peran bagi lingkungan sekitarnya. Ia pernah menyerahkan sebagian tanah keluarganya untuk pembangunan markas batalyon di wilayah Maluku Barat Daya—sebuah kontribusi yang kini seolah berbalas dalam bentuk perhatian terhadap kondisi hidupnya.

“Sudah lama kami berharap punya rumah yang lebih baik,” kata Marthen pelan. “Sekarang mulai terlihat,” tambahnya dengan wajah ceria.
Di lokasi yang sama, suasana kerja berlangsung tanpa jarak yang kaku. Warga sekitar ikut membantu, memperkuat nuansa gotong royong yang menjadi ciri khas kegiatan TMMD.
Bagi mereka, pembangunan ini bukan hanya milik satu keluarga, tetapi bagian dari kehidupan bersama.
Program TMMD selama ini identik dengan pembangunan jalan atau fasilitas umum di wilayah terpencil. Namun di Desa Moain, program tersebut juga menyentuh ruang paling personal: rumah, tempat sebuah keluarga bertahan dan berharap.
Fondasi yang kini mulai terbentuk di tanah milik Marthen bukan sekadar struktur beton. Tetapi menjadi simbol awal dari kehidupan yang lebih layak—tentang rasa aman, tentang tempat pulang, dan tentang harapan yang perlahan dibangun, lapis demi lapis. (IA-01)














Komentar